1+1=? 

Covering the Online insight for Indonesian business, one post at a time by Brian Arfi

Konsistensi Profesionalisme

6 Nov 2008 | Oleh : Brian Arfi Tags: , , ,
Kategori : Bisnis, My Mind

Bagi kita yang bergerak dalam dunia bisnis, utamanya yang berhubungan dengan orang lain (emang ada bisnis yang gak berhubungan dengan orang lain?) profesionalisme atau etika bisnis sering kali menjadi perhatian utama kita. Buat para marketing atau punya bisnis bersifat B2B, prinsip ini lebih kelihatan lagi dibandingkan mereka yang berhadapan dengan konsumen langsung.

Bagi bos bos retailer yang bisnisnya berhadapan dengan konsumen langsung, mereka tidak perlu repot untuk mengurusi profesionalisme dirinya sendiri. Atau setidaknya, para bos itu tidak harus profesional dalam menghadapi konsumennya. Kenapa? lah… yang menghadapi konsumen langsung kan memang anak buah/pegawainya.

Berbeda dengan bisnis B2B, atau saat berhubungan dengan supplier, atau saat negosiasi yang harus dilakukan sendiri oleh diri anda. Semua itu menuntut profesionalisme yang tinggi. Bukan hanya dalam hal penampilan, etika bersikap, dan etika berbicara, namun ada satu hal lagi yang sering dilupakan, yang (sedihnya) merupakan salah satu ciri khas bangsa kita.

Jam karet.

Banyak diantara kita yang sangat menyepelekan waktu. Kebiasaan yang sudah kita pupuk dan pelihara dengan baik sejak masa kecil kita. Hal ini menyebabkan kita lebih sering telat dari pada tepat waktu. Lebih sering ngaret daripada on time.

Jika kita telusuri lebih jauh, sedikit banyak ini adalah kesalahan sistem pendidikan kita. Setidaknya saya melihatnya demikian. Saya mulai mengamati hal ini sewaktu di masa perkuliahan. Awalnya tidak disadari memang. Mulai dari dosen yang datang telat dari jadwal yang ditentukan. Perilaku dosen yang SELALU tidak tepat waktu saat membuat janji dengan mahasiswanya, dan disiplin beban kuliah yang sangat jauh dari harapan.

Lalu apa hubungannya dengan kita? Ya, karena seperti itu tingkah laku guru guru kita, maka si mahasiswa (yang akhirnya menjadi dewasa) juga akan mengingat dan menirunya. Kenapa? karena masyarakat indonesia ini pada dasarnya membutuhkan contoh (seperti kata pak Romi). Kalo contohnya jelek, ya hasilnya jelek juga.

Mahasiswa tadi ada yang jadi PNS, ada yang jadi orang tua, dan yang lainnya. Kebiasaan ini kemudian diajarkan pula pada anak anak dan orang orang disekelilingnya. Tidak ada gunanya menyuruh seorang siswa SD datang sebelum pukul 07.00, sementara gurunya datang ke kelas dengan terlambat. Apa yang kita lakukan berbicara JAUH LEBIH KERAS dibandingkan apa yang kita katakan.

Jika kita sudah menyadarinya, maka insya Allah merubahnya pun akan semakin mudah. Kita bisa mulai dengan mendisiplinkan diri kita sendiri. Bangun tepat waktu, mensetting jam tepat pada waktunya (yang jamnya suka dimajuin 10-30 menit ngaku…..), dan menepati janji, yaitu datang sebelum waktu yang disepakati.

Kalo kita sudah melakukan itu, dalam artian kita sudah profesional dalam bersikap dan bertindak, sementara lawan kita kebalikannya?

Insya Allah akan saya tuliskan di posting selanjutnya :)

3 komentar di “Konsistensi Profesionalisme”

  1. hnim said on Wednesday, November 12, 2008, 20:45

    menunggu adalah hal yg paling menyenangkan dalam berbisnis, karena dengan menunggu posisi kita menjadi 'lebih' dan biasanya mudah memenangkan negosiasi... IMHO
  2. AbuRamza said on Monday, November 17, 2008, 11:05

    Hmm... itu sebuah perspektif positif yang luar biasa :)
  3. Abu Ramza’s Personal Life Sketch » Blog Archive » Menjadi Profesional di Lingkungan Indonesia said on Tuesday, November 18, 2008, 15:40

    [...] ini merupakan lanjutan dari tulisan saya sebelumnya di sini. Di posting terakhir saya sempat membahas tentang apa yang seharusnya kita lakukan jika kita sudah [...]

Tinggalkan Komentar

Calendar

February 2012
S M T W T F S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829