14 Feb 2010 | Oleh : Brian Arfi Tags: Facebook, komunitas, social media, tangandiatas, twitter
Kategori : Teknologi, social media
Beberapa waktu yang lalu @roniyuzirman, founder komunitas tangandiatas, mengajak secara terbuka milist TDA untuk bergabung ke tangandiatas.ning.com.
Saya salut dengan pak Roni yang terus menerus memikirkan komunitas TDA ini dan tidak berhenti memberikan inovasi dan selalu berusaha memberikan yang terbaik.
Walaupun begitu, saya sebagai seseorang yang sedikit lebih berpengalaman di dunia online merasa sayang apabila niatan positif itu tidak diarahkan dengan maksimal.
Ibarat senjatanya sudah tajam, oke, dan sempurna, tapi pemanfaatannya salah sasaran.
Tidak, ini bukan kritik, tapi lebih ke arah masukan, dan mungkin sedikit ‘bawel’ saya sebagai bukti kepedulian saya terhadap komunitas TDA
Menurut saya seharusnya akan jauh lebih bagus apabila bukan di Ning social network TDA ini dibuat.
Kenapa? karena ini akan membuat tangandiatas.com (yang sampai sekarang sepertinya underutilized) akan semakin turun fungsi dan kegunaannya. Akan lebih baik apabila mengembangkan aplikasi social networking internal di tangandiatas.com walaupun fakta membuktikan akan sulit untuk berkembang.
Social networking, sama seperti handphone, email, fax, dan televisi. Kekuatannya ada di jumlah pengguna. Jadi akan sulit mengharapkan ada banyak orang yang berkumpul dan login di sebuah social network yang kebutuhannya/scope bahasannya spesifik. Itulah kenapa, jika jumlah penggunanya kecil akan sulit untuk berkembang dan punya momentum. Mirip sekali dengan kegagalan Google Wave.
Karena sama seperti bentuk dasar social network awalnya yaitu forum online, social network sangat bergantung pada banyaknya jumlah pengguna dan keaktifan pengguna itu. Berbeda jauh dengan portal vertikal (yang membahas tema spesifik tertentu, seperti RumahDot yang membahas tentang dunia web development, web design, dan web business) atau blog atau milist.
Portal vertikal, blog, dan milist memenuhi kebutuhan orang untuk saling berbagi dan berinteraksi atas dasar TOPIK SPESIFIK. Jadi, yang berkumpul adalah mereka dengan kebutuhan tertentu dan minat tertentu yang sama.
Dan karena sifat kebutuhannya adalah ‘tertentu’, maka tidak bisa diharapkan orang akan terus menerus login dan memantau perkembangan di portal vertikal, blog, ataupun milist. Berbeda jauh dengan facebook atau kaskus atau twitter, yang rasanya kurang komplit dan nggak enak klo sehari aja blom buka ketiga aplikasi itu.
Karena diketiga aplikasi itu, yang penting adalah banyaknya jumlah user disana. Sehingga yang terjadi adalah numbers game. Saat kita memiliki 500 teman, kemungkinan ada salah satu dari mereka yang mengucapkan, atau mengupload foto, atau menulis sesuatu yang menarik minat kita.
Sementara masalahnya dengan apapun yang membahas tentang hal spesifik (misalnya entrepreneurship dan bisnis), kemungkinan besar jumlah update yang menarik jauh lebih sedikit untuk memaksa kita terus menyimaknya.
Kesimpulannya, akan sulit memindahkan habit dari dunia yang spesifik menuju dunia yang general. Seperti yang akan terjadi dengan memindahkan budaya milist ke social network di ning. Tentu saja, pendapat saya ini bisa jadi salah.
Saya akhiri dengan pertanyaan:
kenapa harus login di tangandiatas.ning.com kalo kita bisa bertemu di facebook, baca update milist di email, dan belajar bisnis dan tips dengan berkunjung ke blog teman teman TDA?
image is courtesy of recognitionworks.net
Recent Comments