1+1=? 

Covering the Online insight for Indonesian business, one post at a time by Brian Arfi

Bagaimana membangun bisnis B2B dengan pelat merah, Sisfo style!

18 Dec 2009 | Oleh : Brian Arfi Tags: , , , ,
Kategori : Entrepreneurship

1suap

Oke, sesuai janji saya sebelumnya, saya akan menulis tentang hasil wawancara singkat yang saya lakukan dengan Bapak Zen, dari Sisfo Infotech, salah satu pemenang TeknoPreneur Award 2009 kemarin. Informasi yang saya tuliskan di sini bisa jadi penting bagi anda yang membangun bisnis B2B, atau non-retail, yang ingin mendapatkan project dari pemerintah.

Tentu saja, yang saya tuliskan di sini nggak akan spesifik membahas detail karena saya sendiri hanya punya waktu kurang dari lima menit untuk wawancara kemarin. Tapi saya akan coba gabungkan dengan knowledge saya pribadi. Mohon maaf karena setelah saya cari-cari… saya lupa mengambil gambar dari Bapak Zen… mohon dimaafkan.

Sebagai informasi, sebelumnya saya nggak membawa recorder jadi saya akan tuliskan catatan saya.

Sisfo sendiri didirikan pada tahun 2003. Belum terlalu lama tapi memang seperti itulah biasanya sebuah perusahaan berbasis teknologi. Tidak semua pertanyaan saya akan tuliskan di sini, namun akan saya ambilkan yang terpenting saja untuk dipelajari.

Pertanyaan pertama: Apa yang menjadi tantangan terberat Sisfo dalam membangun bisnisnya pada fase awal?

Pada fase awal, Bapak Zen berkata bahwa yang paling sulit adalah menyatukan visi. Kemudian menentukan kemana arah perusahaan, menggunakan flagship produk apa. Serta untuk tetap fokus dalam semua yang sudah ditentukan.

Menyatukan visi

Jujur, saya yang juga memulai perusahaan startup, bingung awalnya dengan jawaban menyatukan visi ini.

Namun setelah saya pikirkan lebih dalam, ternyata memang benar. Kebanyakan startup dimulai tidak oleh seorang pribadi, namun melalui partnership. Dan seandainyapun dimulai oleh pribadi (seperti DheZign), tetap membutuhkan tim yang mau berkorban dan memiliki militansi tinggi dalam membangun perusahaan.

Di sinilah saya menyadari pentingnya jawaban Pak Zen. Bahwa menyatukan visi adalah hal yang menjadi tantangan terberat sebuah perusahaan berbasis teknologi di tahun-tahun pertamanya.

Karena hanya dengan bersatunya visi, seluruh tim yang ada mampu untuk bekerja bersama, bahkan melebihi kewajibannya untuk tercapainya visi tersebut. Tanpa adanya visi yang satu, maka tim akan tercerai-berai. Semua hanya melakukan hal-hal yang sesuai dengan tujuannya sendiri-sendiri. Yang seringkali berbeda dengan tujuan perusahaan.

Menentukan kemana arah perusahaan

Sama seperti menentukan visi, kemana arah perusahaan bergerak dan strategi apa yang ditempuh juga biasanya sulit untuk diputuskan pada masa masa awal perusahaan. Kenapa? Karena semua terlihat menarik dan banyak sekali peluang yang terbentang.

Tapi, sebagai perusahaan startup, biasanya resource yang dimiliki sangat terbatas.

Produk apa yang akan difokuskan dan dijadikan flagship

Untuk menjadi besar dan dikenal, menentukan produk apa yang akan difokuskan adalah keputusan krusial. Sekali lagi karena startup biasanya tidak memiliki biaya research yang besar. Dan resource yang dimiliki sangat terbatas. Mengerjakan lebih dari satu produk secara serius seringkali bukan menjadi sebuah pilihan.

Fokus

Penyakit terbesar dan sumber dari mengapa banyak bisnis tidak bisa berkembang menjadi raksasa.

Pada fase tertentu, biasanya entrepreneur akan stuck dengan bisnisnya. Kehabisan ide dan cara tentang bagaimana cara membesarkan bisnisnya. Dan pada saat inilah, entrepreneur (seperti sifatnya yang suka memulai sesuatu yang baru) membangun bisnis baru. Mulai tertarik dengan hal lain dan sedikit demi sedikit meninggalkan bisnisnya yang sudah berjalan.

Jangan bilang ke saya bahwa anda sebagai seorang pebisnis tidak mengetahui hal ini. Banyak dari rekan saya yang terjebak perangkap ini dan akhirnya semua bisnisnya menjadi so-so. Bahkan saya sendiri nyaris terjebak secara tidak sadar jika tidak diingatkan oleh Pak Nukman (baca juga posting beliau tentang fokus). Padahal diantara kolega dan rekan rekan saya, saya adalah seseorang yang paling getol menyerukan untuk fokus.

Jadi, ingat bahwa kendala dan tantangan terbesar di tahun-tahun pertama sebuah perusahaan startup adalah menyatukan visi, kemana arah perusahaan, produk apa yang dikembangkan, dan fokus!

Kita lanjutkan ke pertanyaan selanjutnya

korupsiPertanyaan kedua: Bagaimana dengan urusan suap menyuap yang terkenal di pelat merah? Solusi dalam menjalaninya?

Bapak Zen bercerita bahwa, memang suap dan KKN adalah hal yang identik dengan project-project yang berhubungan dengan pemerintahan kita. Itu tidak bisa dipungkiri karena memang kenyataan dilapangan seperti itulah kejadiannya.

Lalu beliau bercerita bahwa untuk lepas dari praktek-praktek tersebut Sisfo harus mengambil jalan memutar untuk mendapatkan project dari pemerintahan Indonesia. Memutar lebih tepatnya dengan cara mendapat pengakuan dari perusahaan Internasional atau pihak di luar negri terlebih dahulu, baru kemudian balik lagi ke Indonesia.

Begitu beliau bercerita. Saat saya bertanya, bagaimana cara untuk mendapat pengakuan, sementara tidak ada portfolio dan pencapaian yang bisa kita capai tanpa mengerjakan project?

Pak Zen bilang bahwa caranya yaitu dengan menguatkan produk terlebih dahulu. Berinvestasi dalam produk dan menjadikannya benar-benar sebagai produk yang terbaik. Setelah itu, pihak swasta dan asing biasanya akan tertarik dan akan mulai masuk.

Baru setelahnya anda bisa berkiprah di pemerintahan yang merupakan market utama untuk pengembangan teknologi di Indonesia. Begitu papar beliau.

Nah, dari sini saya mendapatkan masukan tentang salah satu strategi yang bisa dilakukan. Memang sampai titik ini saya masih sedikit enggan untuk bersentuhan dengan pemerintah, dan berfokus di sektor swasta. Alhamdulillah, ternyata ini langkah yang benar.

Sedikit bonus wejangan yang saya sempat catat dari @anindyabakrie, “Bisnis mau besar mau kecil tetap sama susahnya. Makanya kita harus berjuang”

Bagaimana dengan anda? Apakah anda mempunyai tips sendiri untuk masalah suap menyuap di pemerintahan? Silahkan sharing di sini.

Image is courtesy of abduh1.blogspot.com & for-the-better-world.blogspot.com

Tinggalkan Komentar

Calendar

February 2012
S M T W T F S
« Dec    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
26272829