17 Oct 2009 | Oleh : Brian Arfi Tags: Facebook, social media, social networking, twitter
Kategori : social media
Bayangkan jika anda berurusan dengan sebuah perusahaan yang bahkan tidak memiliki sebuah website. Padahal bisnis anda serius dan di sebrang sana ada perusahaan lain yang memiliki website. Bukankah anda akan cenderung berurusan dengan mereka yang memiliki website.
Bayangkan jika anda ingin membeli sebuah Laptop papan atas. Dan katakanlah ada sebuah merk yang tidak memiliki website. Apakah anda akan membelinya? Saya yakin tidak.
Bayangkan jika anda mencari sebuah perusahaan MARCOMM, dan ternyata ada sebuah perusahaan yang membawa proposal menarik, mengatakan bahwa mereka bisa melakukan marcomm yang efektif lewat media internet, sementara mereka sendiri tidak memiliki website. Apakah anda akan berurusan dengan mereka? Saya yakin tidak.
Intinya, jika anda tidak memiliki website anda akan ditinggalkan.
Internet, dan semua yang ada di dalamnya bukanlah hanya sebuah media baru. Perbandingan antara Internet dan media konvensional lainnya berbeda dengan perbandingan antara TV dan radio. Populernya TV tidak mengubah model bisnis yang ada. Dukungan utama industri ini masih berasal dari Iklan. Tidak banyak yang berubah.
Namun Internet berbeda. Saat populasi mulai menggunakan internet, model bisnis berubah, model komunikasi berubah, dan pendekatan perusahaan kepada target marketnya juga HARUS dirubah.
Menginjak ke pembahasan yang lebih dalam, tentang social media. Trend yang sama terulang juga kali ini. Hanya dalam bentuk yang berbeda.
Dalam waktu dekat, aturannya akan berubah. Era dimana kita hanya cukup memiliki website, dan kemudian bergantung pada SEO sudah berakhir. Saat populasi website sudah semakin penuh, makin tidak mungkin untuk menduduki peringkat kunci dalam search engine. Jika anda akhirnya ‘menurunkan’ level anda dengan menggunakan keyword yang lebih spesifik, maka tentu saja coverage anda juga akhirnya menurun, walaupun mungkin conversion rate anda naik.
Tulisan Seth Godin mengenai penuh sesaknya dunia internet, dan kita sebagai penggunanya yang semakin diberondong informasi bisa menjadi salah satu acuan yang menarik dalam hal ini.
Saat kondisi ini tiba nanti (dan mungkin lebih cepat daripada yang anda kira), akan ada sangat banyak perubahan. Contohnya:
Saya yakin akan ada banyak cerita seperti ini di Indonesia. Contoh simpelnya adalah buzz tentang kedatangan miyabi ke Indonesia, yang berawal dari Internet, dan kemudian merambah media konvensional.
Tidak peduli anda paham atau tidak tentang social media, target market dan konsumen anda terus bergerak. Anda HARUS memanfaatkan social media jika anda ingin bertahan.
Pertanyaan besarnya adalah, apakah semua bisnis cocok menggunakan social media? Dan apakah anda telah memanfaatkannya?
Kenapa Anda HARUS Terlibat di Social Media, Meskipun Anda Benci Social Media (1) by Dhe Blog said on Saturday, October 17, 2009, 3:21
dani said on Friday, October 23, 2009, 8:31
tapi koneksi Internet mobile saya belum sepenuhnya mendukung keterlibatan di pelbagai jejaring sosial itu.
frans said on Saturday, October 24, 2009, 21:03
Ready or not ready... u need social media to be a winner...
eko setiawan said on Tuesday, October 27, 2009, 9:38
but...
Makasih mas, artikelnya memberikan pandangan baru bagi saya.
salam...
Komunikasi 2 Arah Sebagai Bentuk New Wave Marketing by Dhe Blog said on Monday, November 30, 2009, 20:30