25 Jun 2009 | Oleh : Brian Arfi Tags: blunder, hosting, ITS, media internet, PSB online, web developer profesional
Kategori : DheZign, My Mind, Pelayanan Pelanggan, Teknologi
Mengikuti perkembangan semrawutnya PSB Online, di koran Jawa Pos hari ini, tanggal 25 Juni dimuat hasil wawancara antara Jawa Pos dengan Koordinator IT PSB Online Yudhi Purwananto SKom yang juga ketua jurusan teknik informatika ITS.
Setelah saya baca dengan seksama, ternyata benar dugaan salah satu rekan saya Bapak Samuel waktu kami berbincang kemarin. Dari hasil wawancara di Jawa Pos tersebut, memang benar ternyata masalah yang timbul dan membuat repot ribuan orang tua di Surabaya dan sekitarnya kemarin memang benar disebabkan karena tidak siapnya data, seperti yang sudah saya tuliskan disini. Namun kemarin Bapak Samuel bilang bahwa pasti ada masalah dengan hostingya, dengan servernya, senada dengan ungkapan beberapa rekan diposting saya di facebook. Dan benar, hari ini dibahas penuh tentang ini di Jawa Pos.
Masalah yang terjadi di hari pertama memang benar disebabkan karena dimatikannya server karena upload data oleh admin. Dan pada saat itu pihak ITS membantah errornya adalah karena disebabkan crowded (terlalu banyak orang yang mengakses). Ternyata, error yang terjadi di hari kedua nggak jauh dari perkiraan. Sistem PSB online error karena crowded. Sesuatu yang sudah diantisipasi seharusnya oleh developer aplikasi tersebut, tapi tetap gagal untuk diatasi.
Pihak ITS berkata bahwa sebelum go live, sistem telah di ujicoba dengan diakses oleh 600ribu pengakses, dan juga sudah di ujicoba oleh hacker, hasilnya sukses (katanya). Namun, saat ditanya kenapa kok akses hari kedua masih tetap lambat dan error, mereka berkilah bahwa ada gangguan di mirror server yang menyebabkan enam dari delapan server yang ada mengalami gangguan. Mereka mencoba berkelit dengan mengatakan bahwa hal ini terjadi karena banyak masyarakat yang mencoba-coba mengakses website tersebut. Mereka juga berkata bahwa dalam IT tidak ada yang 100%, yang ada hanya 99,9%. Saat ditanya apakah gagalnya PSB online RSBI ini kasus yang 0,1% tersebut tidak ada jawaban yang terlontar.
Kalo pendapat saya, yang namanya dunia internet, dan membuka akses website adalah bersiap dengan lonjakan pengunjung yang tiba-tiba. Dan sudah seharusnya ini dapat diatasi dengan baik. Rusaknya enam dari delapan server yang ada merupakan cermin dari ketidaksiapan pihak developer aplikasi (ITS) dalam menghadapi kendala yang ada.
Dan seperti yang sudah saya tulis di posting saya sebelumnya, hal ini tidak akan terjadi seandainya tidak ada pihak yang sombong dan sok bisa. Sok mandiri dan tidak mau bergantung pada pihak lain, semua inginnya diselesaikan sendiri. Saya yakin 100% masalah ini tidak akan terjadi seandainya server yang digunakan bukan in house milik ITS. Namun menggunakan server profesional macam mosso atau mediatemple.
Blunder kali ini sedikit banyak menjelaskan bahwa belum tentu sebuah perguruan tinggi ternama dapat menyelesaikan masalah yang biasa dialami oleh profesional-profesional yang bergerak di bidang hosting seperti mosso dan mediatemple.
Seperti yang telah umum diketahui, gap antara dunia akademi dan dunia riil sangatlah besar. Itu masih berbicara tentang industri pada umumnya. Di dunia internet, hal ini terlihat semakin jelas. Kenapa? Pada suatu kesempatan saya pernah mendengar salah seorang akademisi berkata, “literatur yang berumur 5 tahun itu masih terbilang baru kalo didunia akademis…” Nah, bayangkan dunia internet yang setiap tahunnya (bahkan mungkin setiap 3 bulan sekali) mangalami perubahan dan perkembangan yang sangat signifikan. Mampukah dunia akademi mengikutinya?
Ini juga sebabnya mengapa belum ada pendidikan formal yang membahas tentang dunia internet dan media digital secara khusus. Kebanyakan mencampur adukkan antara internet dengan IT, seperti yang pernah saya tulis disini. Padahal, dua hal tersebut amat sangat jauh dan berbeda.
Posting kali ini sama sekali tidak bermaksud menjelekkan pihak-pihak tertentu. Saya hanya ingin lebih banyak orang yang menyadari bahwa dunia IT dan dunia internet memang berbeda. Dengan menyerahkan segala permasalahan pada ahlinya, seharusnya hal-hal seperti ini bisa dihindari.
Bagaimana dengan anda? apakah anda berpendapat bahwa dunia IT dan internet itu sama? Apakah anda berpendapat bahwa keteledoran ini tanggung jawab ITS, atau mungkin pihak lain?
Anda tidak bisa menuliskan komentar pada tulisan ini.
Recent Comments